Gol 50 Detik Bawa Cerezo Osaka Juarai Liga Jepang 2017

Hari Sabtu (3/11) pekan lalu adalah hari paling indah bagi Cerezo Osaka. Tampil di babak final Piala Liga Jepang atau YBC Levain Cup, Cerezo berhasil keluar sebagai juara. Dalam laga yang dilangsungkan di Stadion Saitama 2002, Cerezo melawan Kawasaki Frontale dan berhasil mengalahkannya dengan skor 2-0.

 

Kemenangan Cerezo ini menjadi sorotan dunia karena adanya gol super cepat yang dicetak. Adalah Kenyu Sugimoto, pemain asli Osaka berusia 24 tahun itu membuat semua orang melongo usai merobek jala Kawasaki pada detik ke-50, seperti dilansir Bola.com. Sugimoto mampu memanfaatkan bola liar karena pemain bertahan Kawasaki gagal menguasai bola yang ada dan menendangnya dengan kaki kanan yang masuk ke gawang.

 

Keunggulan 1-0 untuk Cerezo ini bahkan bertahan selama dua babak berlangsung. Hingga akhirnya di menit ke-92, Elierce Barbosa de Souza menambah gol sehingga Cerezo menang 2-0 yang membuat mereka mengangkat piala juara Liga Jepang untuk kali pertamanya.

 

Penantian 22 Tahun Cerezo Osaka

 

Gol cepat Sugimoto jelas melengkapi gelar juara Cerezo. Menjadi tim satu kota dari Gamba Osaka yang sudah memiliki gelar juara Liga Jepang sebanyak dua kali, Cerezo memang kerap dipandang sebelah mata. Sepanjang sejarah klub di era profesional, klub berjuluk Bunga Sakura dari Osaka ini pernah menjuarai Liga Sepakbola Jepang musim 1995. Berlaga di Liga Jepang divisi satu, penampilan Cerezo sangatlah suram hingga terbuang ke divisi kedua.

 

Namun berkat kerja keras yang tak kenal lelah, anak asuh Yoon Jong Hwan itu berhasil menjadi juara Piala Liga Jepang tahun 2017. Atas raihan ini, Cerezo berhak jadi tuan rumah laga Suruga Bank Championship yang akan dilangsungkan pada musim panas 2018. Di mana Cerezo akan melawan juara Piala Sudamericana yang merupakan wakil dari zona CONMEBOL, seperti dilansir The Daily Japan.

 

Liga Jepang Yang Berubah Format Demi Penggemar

 

Bagi beberapa orang, raihan juara Cerezo ini cukup unik. Karena dalam daftar klasemen sementara, Cerezo hanya ada di posisi ketiga dengan poin sebanyak 57. Cerezo bahkan kalah dari Kawasaki di posisi kedua dengan 63 poin atau sang pemuncak klasemen Kashima Antlers dengan total 70 poin. Kenapa bukan Kashima yang menjadi juara Piala Liga Jepang?

 

Rupanya hal itu dikarenakan perubahan format kompetisi yang dilakukan operator liga profesional Jepang sejak tahun 2015. Dari sebelumnya bernama Divisi 1 Liga Jepang, berubah jadi Liga J1. Bahkan penentuan juara dilakukan melalui partai final. Di mana tim-tim terbaik dari putaran pertama dan kedua serta tiga tim pengumpul poin terbanyak akan melakukan babak play-off sebelum merebut tiket final. Di mana tim pengumpul poin terbanyak dari dua putaran bakal langsung melangkah ke putaran final, lalu satu tiket tersisa diperebutkan oleh juara putaran pertama, juara putaran kedua serta peringkat kedua dan ketiga dari daftar klasemen sementara satu musim kompetisi, seperti dilansir Kompas.

 

Seperti contohnya pada Liga Jepang musim 2015, tim pengumpul poin terbanyak dua putaran adalah Sanfrece Hiroshima. Putaran final diikuti dua juara putaran pertama, Urawa Red Diamonds dan Gamba Osaka, tetapi juara musim 2015 malah diraih oleh Urawa. Atas perubahan format kompetisi ini, total penonton yang hadir memang terus meningkat dan membuat Liga Jepang tetap mempertahankannya. Hmm, apakah Liga Indonesia memiliki keinginan bandar togel sgp untuk mengikuti langkah format kompetisi ala Liga Jepang yang seru ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *