Sempat Tembus Rp 60 Juta, Bitcoin Kini Dilarang di China

Pernah dengar yang namanya Bitcoin? Itu adalah mata uang virtual (Cryptocurency) yang ditemukan oleh sekelompok grup dengan nama alias Satoshi Nakamoto pada tahun 2009 silam. Hanya tersedia di dunia digital, Bitcoin dikembangkan oleh para ahli komputer dengan idealisme bahwa mata uang bandar togel yang baik seharusnya tidak dikontrol oleh pemerintah atau bank sentral.

 

Ketika perekonomian dunia dipandang sudah semakin tak stabil terbukti dengan adanya krisis perbankan di Amerika dan Eropa, Bitcoin muncul dan diyakini bakal jadi mata uang serta komoditas global. Dengan nilai tukarnya yang makin melambung tinggi, 1 BTC di awal 2013 hanya ada di kisaran 13 dolar dan pada awal September 2017 atau cuma berselang empat tahun, sudah menembus 4.100 dolar (sekitar Rp 54 jutaan). Sungguh nilai yang sangat fantastis!

 

Menambang Bitcoin Sangat Menggiurkan

 

Salah satu kelebihan Bitcoin yang membuat banyak pelaku bisnis digital tertarik adalah bisa dikirim ke mana saja yang memiliki alamat Bitcoin lewat internet tanpa melalui bank atau lembaga pengirim. Tanpa syarat dan batasan transfer, Bitcoin bisa digunakan di negara manapun. Uang Bitcoin ini bisa disimpan di komputer pribadi dalam sebuah format file wallet atau lewat servis wallet pihak ketiga.

 

Diciptakan lewat proses yang disebut mining, para miner memakai komputer canggih untuk menguraikan matematika kompleks demi menemukan blok baru Bitcoin. Hadiah per ditemukannya satu blok awalnya ada 50 BTC dan semakin menyusut dengan bertambahnya sirkulasi Bitcoin. Karena memang sistem memastikan maksimal Bitcoin yang beredar di dunia adalah 21 juta keping BTC sampai tahun 2024.

 

Agar bisa menambang Bitcoin, dibutuhkan komputer mutakhir yang disebut Application-Specific Integrated Circuit (ASIC). Salah satu penambang Bitcoin asal Indonesia yakni Farhan sempat bercerita kepada DetikFinance mengenai keuntungannya menjadi miner. Bermodalkan VGA dan komputer yang harus menyala 24 jam nonstop, Farhan mampu memperoleh enam juta rupiah dari satu PC dalam waktu satu bulan saja. Menurut pengakuannya, keuntungan bersih paling besar yang pernah dia dapatkan adalah 16 juta rupiah sebulan.

 

China Resmi Melarang Bitcoin

 

Nilai Bitcoin bergerak karena supply and demand di pasaran, seperti harga emas. Namun di Indonesia sendiri, rupanya Bank Indonesia (BI) telah melarang Bitcoin sebagai alat transaksi di Tanah Air dan tertera dalam Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP). Meski tak masuk dalam alat transaksi sah yang diatur BI, transaksi yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang sama-sama memiliki Bitcoin bukan urusan BI.

 

Berbeda dengan Indonesia, pemerintah China mengeluarkan kebijakan tegas yang melarang Bitcoin. Beberapa alasannya adalah karena nilai tukar Cryptocurency susah dikontrol lantaran mengikuti mekanisme pasar, berbeda dengan yuan terhadap dolar AS. Selain itu ancaman penipuan dan merusak dunia investasi membuat China ogah. Sebut saja saat Bitcoin berpotensi bubble dan pecah karena semakin populer, harganya meroket dari 10 juta menjadi 60 juta rupiah dalam waktu delapan bulan saja. Dengan adanya dua pasar Bitcoin terbesar dunia di China, tentu kerugian yang diderita mereka akan mengerikan.

 

Kabar ditutupnya bursa-bursa Bitcoin raksasa di China pada akhir September 2017membuat harga Bitcoin anjlok hingga 13%. Dalam waktu tiga hari, Bitcoin turun dari Rp 54 juta ke 38 juta karena banyak investor China mencairkan uang Bitcoin mereka. Kini setelah China melarang, kabarnya Bitcoin ‘kabur’ ke Jepang dan menjadi pasar terbesar Bitcoin di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *