Menpora Klaim Penyaluran Peralatan Untuk SEA Games 2017 Tinggal 10% Lagi

Pertandingan SEA Games 2017 akan segera dimulai tanggal 19 sampai 30 Agustus 2017 mendatang, tentunya pihak-pihak yang terkait seperti atlet dan pelatih sedang sibuk mempersiapkan diri agar dapat berlaga maksimal di ajang bergengsi tersebut. Tak terkecuali pihak Kemenpora juga turut sibuk menyambut. Di tiga pekan menjelang SEA Games 2017 ini, Menteri Pemuda dan Olahraga Iman Nahrawi mengklaim bahwa penyaluran peralatan ke cabang olahraga sudah hampir selesai dilakukan.

Beberapa Cabor Belum Terima Peralatan Olahraga Dari Pemerintah

Memang ada beberapa cabang olahraga yang masih menggunakan peralatan milik pribadi saat latihan dan untuk pertandingan. Hal itu terjadi karena adanya keterlambatan suplai peralatan dari Pemerintah. Contohnya adalah di cabang menembak, ada tiga atlet yang memakai alat pribadi, bahkan belum mendapatkan gaji di bulan Juni.

Tak hanya olahraga menembak, tapi cabang renang juga bernasib sama. Mereka juga belum menerima peralatan dan diperparah dengan biaya uji coba terakhir ke Kejuaraan Dunia Renang di Budapest, Hongaria tanggal 14 sampai 30 Juli yang mesti ditalangi terlebih dahulu.

Cabang olahraga balap sepeda juga mengalami hal itu. Sampai hari selasa 11 Juli 2017, mereka masih menunggu realisasi pembelian sepeda yang ingin dipakai untuk berlomba. Padahal sepeda yang diperlukan cukup banyak, yaitu pelatnas balap jalan raya 11 sepeda, trek 8 sepeda, time trial 3 sepeda dan BMX 5 sepeda.  Semua sepeda itu belum sampai ke Yogyakarta dan Solo, lokasi para atlet berlatih untuk mempersiapkan SEA Games.

Menpora Klaim Penyaluran Peralatan Olahraga Tinggal 10%

Walaupun begitu, keadaan tersebut ternyata dibantah oleh Menpora Imam Nahrawi. Karena menurutnya, semua proses yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang ada, bahkan pihaknya juga mengklaim kalau saat ini pengiriman peralatan hanya tinggal 10 persen lagi.

Saat ditanyakan mengenai hal itu di kantor Menpora, Senayan pada hari Jumat 28 Juli 2017, Imam mengatakan, “Begini, kami inginnya (pakai) e-catalog dan semua sudah diserahkan ke Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP). Lalu LKPP menayangkan ini peralatannya, tetapi hanya ada dua vendor yang mampu melengkapi semua. Kami tidak bisa (dong) beli alat sendiri kecuali sudah gagal, baru kami lakukan penunjukan langsung. Tapi penunukan pun harus hati-hati apakah alatnya sudah sesuai dengan yang dibutuhkan cabor atau tidak.”

“Tapi itu sudah berjalan karena sekarang tinggal 10 persen yang belum (siap) dan masih ada waktu. Komitmen kami kan akhir Juli kita clear semua,” terangnya.

Saat ditanya secara terpisah, Gatot S. Dewa Broto selaku Sekretaris Menpora mengungkapkan kalau pada prinsipnya, peralatan cabor akan dipenuhi. Mengenai keterlambatan yang terjadi, menurutnya hanya masalah prosedur administrasi saja.

Mengenai peralatan cabang olahraga dewa poker yang baru saja diberikan jelang laga, karena pihak Kemenpora beberapa pekan kemarin baru mendapatkan fatwa dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP). Fatwa tersebut terkait dengan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 mengenai Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.

Peraturan tersebut terkait dengan kewenangan instansi untuk mengadakan lelang dan pembelian elektronik. Hak untuk melakukan lelang serta pembelian secara elektronik yang sekaran hanya dimiliki oleh LKPP akan diperluas, ke pihak Pemerintah Daerah ataupun Kementerian.

Gatot menjelaskan, “Tapi jangan keliru juga karena kami mengirim surat kepada LKPP pun terlambat yakni akhir Mei lalu. Surat meminta fatwa kewenangan instansi dalam menggelar lelang dan pembelian elektronik. Lalu sebulan kemudian baru dikirim lagi oleh LKPP.”

“Lalu kenapa baru satu setengah bulan yang lalu, karena pada saat kami mau mengadakan barang dan jasa harus berhati-hati. Sebab, bulan itu ada disclaimer, sehingga satu-satunya jalan paling aman adalah meminta fatwa ke LKPP.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *